SKRIPSI
MINI
Untuk
Memenuhi Tugas Akhir Mata Kuliah Bahasa Indonesia
Dosen Pembimbing: Apri Kartikasari H, S.Pd
Dosen Pembimbing: Apri Kartikasari H, S.Pd
Oleh
ANGGRAINI
WULANSARI
10321077
PENDIDIKAN
BAHASA INGGRIS
FAKULTAS
PENDIDIKAN BASAHA DAN SENI
IKIP
PGRI MADIUN
JULI
2011
DAFTAR ISI
Halaman
Judul ………………………………………………………….… i
Daftar Isi ……………………………………………………………..…… ii
Kata
Pengantar ……………………………………………………………. iii
Bab
1 Pendahuluan …………………………………………………………1
A. Latar
Belakang …………………………………………………. 1
B. Rumusan
Masalah ……………………………………………… 3
C. Tujuan…………………………………………………………… 4
D. Kegunaan
………………………………………………………. 8
Bab
II Pembahasan ……………...………………………………………… 5
A. Bahasa
………………………………………………………….. 5
B. Sejarah
Bahasa Indonesia …………..…………………………... 8
C. Fungsi
dan Pentingnya Bahasa Indonesia
…………..………… 9
D. Hambatan
dan Tantangan Bahasa Indonesia Untuk Tetap
Eksis di Kalangan Remaja dan Mahasiswa
…………………… 14
E. Upaya
Melestarikan Bahasa Indonesia ..……………………….. 22
Bab
III Penutup ……………………………………………………….…… 28
A. Kesimpulan
……………..……………………………………… 28
B. Saran
……………………………………………………………. 31
DAFTAR
PUSTAKA ……………………………………………………. 33
KATA PENGANTAR
Segala puji bagi Allah yang telah menolong hamba-Nya
menyelesaikan skripsi ini dengan penuh kemudahan. Tanpa pertolongan-Nya mungkin
penyusun tidak akan sanggup menyelesaikan dengan baik.
Makalah ini disusun agar pembaca dapat memperluas ilmu
tentang “Peran, Tantangan, Hambatan dan Upaya Untuk Melestarikan Bahasa
Indonesia”. Makalah ini di susun oleh penyusun dengan berbagai rintangan. Baik
itu yang datang dari diri penyusun maupun yang datang dari luar. Namun dengan
penuh kesabaran dan terutama pertolongan dari Tuhan akhirnya makalah ini dapat
terselesaikan.
Makalah ini memuat
tentang “Peran, Tantangan, Hambatan dan Upaya Melestarikan Penggunaan Bahasa Indonesia di Kalangan Remaja” yang
menjelaskan tentang apa peran, tantangan dan hambatan yang dihadapi oleh Bangsa
Indonesia dan bagaimana cara agar Bahasa Indonesia tetap eksis di kalangan
remaja.
Penulis mengucapkan terimakasih kepada berbagai pihak yang
turut mendukung, membantu dan membimbing penyelesaian karya tulis ini,
diantaranya sebagai berikut:
1. Apri
Kartikasari, S.Pd. selaku Dosen Pengampu mata kuliah Bahasa Indonesia.
2. Kedua
orang tua penulis, karena berkat restu mereka penulisan Tugas Akhir ini dapat
terselesaikan dengan baik.
3. Semua
pihak yang terlibat dalam penyelesaian Tugasa Akhir ini yang tidak dapat
disebutkan satu-persatu.
Dengan segala keterbatasan dan kekurangan, karya tulis ini masih
jauh dari kesempurnaan. Penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun
terhadan karya tulis ini.
Semoga skripsi ini dapat memberikan wawasan yang lebih luas
kepada pembaca. Walaupun skripsi ini memiliki kelebihan dan kekurangan.
Penyusun mohon untuk saran dan kritiknya. Terima kasih.
Madiun, Juli 2011
Penulis
BAB
1
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang Masalah
Manusia adalah makhluk sosial yang perlu
berinteraksi dan berkomunikasi dengan manusia lain. Interaksi terasa semakin
penting pada saat-saat manusia ingin menampilkan eksistensi diri agar
keberadaan dirinya diantara manusia lain, diakui, maka manusia menggunakan
bahasa.
Sejak
kita masuk SD (Sekolah Dasar) lalu beranjak ke SMP (Sekolah Menengah Pertama)
dan meneruskan ke SMA (Sekolah Menengah Atas) tentunya kita semua pernah
mendapatkan mata pelajaran Bahasa Indonesia.
Dari
sejak kecil kita sudah ditekankan untuk berBahasa Indonesia yang baik dan benar
namun terkadang karena adanya suatu pergaulan yang menjadi tempat sosialisai bagi
diri kita dengan yang lain serta tempat untuk berinteraksi dengan orang lain.
Berbahasa yang baik dan benar pun terkadang sedikit di lalaikan.
Begitu dekatnya kita kepada bahasa,
terutama Bahasa Indonesia, sehingga tidak dirasa perlu untuk mendalami dan
mempelajari Bahasa Indonesia secara lebih jauh. Akibatnya, sebagai pemakai
bahasa, orang Indonesia tidak terampil menggunakan bahasa. Hal tersebut adalah
suatu kelemahan yang tidak disadari.
Pergeseran itu tampak di kalangan
remaja, terutama saat mengirim pesan singkat via ponsel atau berkomunikasi di
dunia maya melalui akun facebook. Salah satu contoh bahasa komunikasi mereka
yang dikatakan bahasa gaul adalah dengan menyingkat huruf dengan angka dalam
sebuah kata.
Bahasa
Indonesia merupakan bahasa asli dari negara Indonesia dan sudah sepantasnya
sebagai warga Indonesia, seluruh masyarakat terutama para remaja menjaga dan
melestarikan Bahasa Indonesia. Namun apa yang terjadi saat ini sungguh sangat
memprihatinkan. Kemampuan berBahasa Indonesia para remaja saat ini sudah
semakin menurun.
Bahasa
Indonesia baku mulai dikhawatirkan ketika mulai dikikis oleh bahasa gaul,
populer atau bahasa pasar. Padahal, bahasa baku sangat penting dalam kedudukan
kebangsaan.
Dewasa ini, pemakaian Bahasa
Indonesia yang baik dan benar dalam kehidupan nyata maupun fiksi mulai bergeser
digantikan dengan pemakaian bahasa gaul. Hal ini dapat mempengaruhi
perkembangan Bahasa Indonesia sebagai identitas bangsa.
Generasi muda sebagai pilar utama
dalam keberlangsungan bangsa ini, ternyata mulai sekarang dipertanyakan
keberadaanya. Tidak hanya ketika ide dan pemikiran tetapi pengantar atau pun
bahasa yang dituturkan ikut menjadi bagian terpenting di dalamnya.
Keberadaan Bahasa Indonesia di
dalamnya tidak terencana, tidak terpola dengan baik, apa saja bisa masuk. Baik
pada percakapan (dialog) maupun pada deskripsi, bahasa yang dipakai adalah
bahasa gaul, bahasa prokem, bahasa slang, yang hanya dimengerti oleh anak
remaja. Keberagaman bahasa dan warna-warni percakapan tidak dapat dipola dan
hampir tidak terkendali.
Perkembangan zaman dan teknologi
informasi telah menggiring kaum muda untuk berkomunikasi dengan caranya sendiri
sehingga Bahasa Indonesia yang baik dan benar menjadi korbannya. Sesuai dengan
fungsi dan kedudukan Bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional dan bahasa
negara, pembinaan Bahasa Indonesia perlu ditingkatkan terus menerus.
Banyak
dari kita yang belum menyadari akan pertanyaan untuk apa kita menggunakan
Bahasa Indonesia dan belum tentu kita mengetahui akan jawaban dari pertanyaan
itu, sedangkan kita sejak duduk dibangku sekolah dasar sampai sekolah menengah
atas bahkan ada yang melanjutkan perguruan tinggi pun kita masih mendapatkan
pelajaran atau mata kuliah Bahasa Indonesia. Oleh karena itu penyusun mengambil judul “Peran,
Tantangan, Hambatan dan Upaya Melestarikan Penggunaan Bahasa Indonesia di Kalangan Remaja”, agar
memberikan wawasan mengenai pentingnya kita sebagai generasi muda Indonesia
untuk tetap bangga dan menggunakan Bahasa Indonesia agar tetap eksis.
B.
Rumusan
Masalah
Ada empat
masalah yang akan dibahas dalam penelitian ini:
- Apakah peran Bahasa Indonesia bagi remaja?
- Tantangan apa yang dihadapi oleh Bahasa Indonesia untuk menjadi Bahasa komunikasi antar remaja?
- Apa hambatan yang harus dihadapi oleh Bahasa Indonesia untuk tetap eksis di kalangan remaja?
- Bagaimana cara agar Bahasa Indonesia tetap eksis di kalangan remaja?
C.
Tujuan
Secara umum, tujuan penulisan adalah
untuk memeriksa peran, tantangan, dan hambatan penggunaan Bahasa Indonesia di
kalangan remaja. Secara khusus, tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini
adalah:
- Mengetahui Peran Bahasa Indonesia Bagi Remaja.
- Mengetahui Tantangan yang Dihadapi Oleh Bahasa Indonesia Untuk Menjadi Bahasa Komunikasi Antar Remaja.
- Mengetahui Hambatan yang Harus Dihadapi Bahasa Indonesia Untuk Tetap Eksis di Kalangan Remaja.
- Mengetahui bagaimana cara agar Bahasa Indonesia tetap eksis di kalangan remaja?
D.
Manfaat
- Manfaat secara teoritis, dapat memberikan pengetahuan mengenai peran, tantangan dan hambatan nyata yang dialami oleh Bahasa Indonesia di kalangan remaja.
- Manfaat secara praktis, dapat dijadikan referensi untuk penelitian mengenai peran, tantangan dan hambatan nyata yang dialami oleh Bahasa Indonesia di kalangan remaja.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
BAHASA
Bahasa bukan
sekedar alat komunikasi, bahasa itu bersistem. Oleh karena itu, berbahasa bukan
sekedar berkomunikasi, berbahasa perlu menaati kaidah atau aturan bahasa yang
berlaku.
Kita harus
memperhatikan kepada siapa kita akan menyampaikan bahasa. Oleh sebab itu, unsur
umur, pendidikan, agama, status sosial, lingkungan sosial, dan sudut pandang
khalayak sasaran kita tidak boleh kita abaikan. Cara kita berbahasa kepada anak
kecil dengan cara kita berbahasa kepada orang dewasa tentu berbeda. Penggunaan
bahasa untuk lingkungan yang berpendidikan tinggi dan berpendidikan rendah
tentu tidak dapat disamakan. Kita tidak dapat menyampaikan pengertian mengenai
komputer, misalnya, dengan bahasa yang sama kepada seorang anak SD dan kepada
orang dewasa. Selain umur yang berbeda, daya serap seorang anak dengan orang
dewasa tentu jauh berbeda.
Bahasa
yang benar berkaitan dengan aspek kaidah, yakni peraturan bahasa. Berkaitan
dengan peraturan bahasa, ada empat hal yang harus diperhatikan, yaitu masalah
tata bahasa, pilihan kata, tanda baca, dan ejaan. Pengetahuan atas tata bahasa
dan pilihan kata, harus dimiliki dalam penggunaan bahasa lisan dan tulis.
Pengetahuan atas tanda baca dan ejaan harus dimiliki dalam penggunaan bahasa
tulis. Tanpa pengetahuan tata bahasa yang memadai, kita akan mengalami
kesulitan dalam bermain dengan bahasa.
Kriteria
penggunaan bahasa yang baik adalah ketepatan memilih ragam bahasa yang sesuai
dengan kebutuhan komunikasi. Pemilihan ini berhubungan dengan topik yang
dibicarakan, tujuan pembicaraan, orang yang diajak berbicara (jika lisan) atau
pembaca (jika tulis), dan tempat pembicaraan. Selain itu, bahasa yang baik itu
bernalar, dalam arti bahwa bahasa yang kita gunakan logis dan sesuai dengan
tata nilai masyarakat kita. Penggunaan bahasa yang benar tergambar dalam
penggunaan kalimat-kalimat yang yang memenuhi kaidah tata bunyi (fonologi),
tata bahasa, kosa kata, istilah, dan ejaan. Penggunaan bahasa yang baik
terlihat dari penggunaan kalimat-kalimat yang efektif, yaitu kalimat-kalimat
yang dapat menyampaikan pesan/informasi secara tepat (Dendy Sugondo, 1999 :
21).
Perkembangan
bahasa tergantung pada pemakainya. Bahasa berkembang sejalan dengan
perkembangan budaya manusia. Sehingga, bahasa dapat disebut sebagai cermin
zamannya. Bahasa sebagai alat komunikasi, memiliki
fungsi sebagai berikut :
- Fungsi Informasi, yaitu untuk menyampaikan informasi timbale balik antaranggota keluargaataupun anggota-anggota masyarakat.
- Fungsi ekspresi diri, yaitu untuk menyalurkan perasaan, sikap, gagasan, emosi, atau tekanan-tekanan perasaan pembicara. Bahasa dapat menjadi media untuk menyatakan keberadaan diri, membebaskan diri dari tekanan emosi dan untuk menarik perhatian orang lain.
- Fungsi adaptasi, yaitu untuk menyesuaikan dan membaurkan diri dengan anggota masyarakat.
- Bahasa sebagai alat control social merupakan suatu sarana untuk dapat mempengaruhi sikap, tutur kata seseorang. Bahasa sebagai alat control social sangat efektif. Karena control social dapat diterapkan pada diri sendiri atau masyarakat. Majalah, buku, surat kabar dan lain-lain (yang bersifat menghimbau dan mengajak) merupakan alat untuk control social.
Ragam bahasa dapat diklasifikasikan berdasarkan
bidang wacana. Dengan dasar ini ragam bahasa dapat dibedakan atas :
1. Ragam ilmiah, yaitu bahasa yang digunakan
dalam kegiatan ilmiah, ceramah, tulisan-tulisan ilmiah;
2. Ragam populer yaitu bahasa yang digunakan
dalam pergaulan sehari-hari dan dalam tulisan populer.
Ragam bahasa dapat digolongkan menurut sarana dibagi atas ragam lisan dan ragam
tulisan. Makna ragam lisan diperjelas dengan intonasi, dan faktor
nonbahasa, seperti sorot mata, mimik, gerakan kepala, bahu, tangan dan
lain-lain, sedangkan ragam bahasa tulis dipengaruhi oleh bentuk, pola kalimat, dan tanda baca.
Ragam bahasa dari sudut pendidikan dapat dibagi atas
bahasa baku dan bahasa tidak baku. Ragam baku
menggunakan kaidah bahasa yang lebih
lengkap dibandingkan dengan
ragam tidak baku. Ciri ragam bahasa baku adalah
- Memiliki sifat kemantapan dinamis artinya konsisten dengan kaidah dan aturan yang tetap,
- Memiliki sifat kecendekiaan,
- Bahasa baku dapat mengungkapka penalaran atau pemikiran yang teratur,
- Logis dan masuk akal.
Bahasa
baku menurut UU No 24/2009 adalah
bahasa yang dianggap dapat digunakan sebagai bahasa di bidang pendidikan, administrasi
negara, upacara resmi, karya tulis, hukum, peradilan, dan berbagai ranah yang
dapat dipandang resmi.
B. SEJARAH BAHASA INDONESIA
Pada zaman Sriwijaya, bahasa Melayu dipakai sebagai bahasa
kebudayaan, yaitu bahasa buku pelajaran agama Budha. Bahasa Melayu juga dipakai
sebagai bahasa perhubungan antarsuku di Nusantara dan sebagai bahasa
perdagangan, baik sebagai bahasa antarsuku di Nusantara maupun sebagai bahasa
yang digunakan terhadap para pedagang yang datang dari luar Nusantara.
Perkembangan bahasa Melayu di wilayah Nusantara mempengaruhi
dan mendorong tumbuhnya rasa persaudaraan dan persatuan bangsa Indonesia.
Komunikasi antarperkumpulan yang bangkit pada masa itu menggunakan bahasa
Melayu. Para pemuda Indonesia yang tergabung dalam perkumpulan pergerakan
secara sadar mengangkat bahasa Melayu menjadi Bahasa Indonesia, yang menjadi
bahasa persatuan untuk seluruh bangsa Indonesia (Sumpah Pemuda, 28 Oktober
1928).
Bahasa Indonesia lahir pada tanggal 28 Oktober 1928. pada
saat itu, para pemuda dari berbagai pelosok Nusantara berkumpul dalam Kerapatan
Pemuda dan berikrar:
- Bertumpah darah yang satu, tanah Indonesia,
- Berbangsa yang satu, bangsa Indonesia, dan
- Menjunjung bahasa persatuan, Bahasa Indonesia.
Unsur yang ketiga dari Sumpah Pemuda merupakan pernyataan
tekad bahwa Bahasa Indonesia merupakan bahasa persatuan Bangsa Indonesia. Pada
tahun 1928 itulah Bahasa Indonesia dikukuhkan kedudukannya sebagai bahasa
nasional.
Bahasa Indonesia dinyatakan kedudukannya sebagai bahasa
negara pada tanggal 18 Agustus 1945 karena pada saat itu Undang-Undang Dasar
1945 disahkan sebagai Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia. Dalam
Undang-Undang Dasar 1945 disebutkan bahwa bahasa negara ialah Bahasa Indonesia (Bab XV, Pasal 36).
C.
FUNGSI
DAN PENTINGNYA BAHASA INDONESIA
Sejak
kita masuk SD (Sekolah Dasar) lalu beranjak ke SMP (Sekolah Menengah Pertama)
dan meneruskan ke SMA (Sekolah Menengah Atas) tentunya kita semua pernah
mendapatkan mata pelajaran Bahasa Indonesia. Betapa pentingnya kita sebagai warga Indonesia terutama
generasi muda untuk belajar, memahami, mencintai Bahasa Indonesia dan
menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Hasil
perumusan seminar politik Bahasa Nasional yang diselenggarakan di jakarta pada
tangal 25 s.d. 28 Februari 1975 dikemukakan berdasarkan kedudukan Bahasa
Indonesia sebagai bahasa Negara adalah;
- Sebagai bahasa resmi kenegaraan.
- Sebagai alat pengantar dalam dunia pendidikan.
- Sebagai penghubung pada tingkat Nasional untuk kepentingan perencanaan dan pelaksanaan pembangunan serta pemerintah, dan
- Sebagai pengembangan kebudayaan Nasional, Ilmu dan Teknologi.
Kedudukan Bahasa Indonesia sebagai bahasa Nasional di
ikrarkan pada 28 oktober 1928 yaitu hari “Sumpah Pemuda” yang memilki
fungsi-fungsi sebagai:
1. Lambang
identitas Nasional.
2. Lambang
kebanggaan kebangsaan.
3. Bahasa
Indonesia sebagai alat komunikasi.
4. Alat
pemersatu bangsa yang berbeda suku, agama, ras, adat istiadat dan budaya.
Berdasarkan fungsinya Bahasa Indonesia dibagi menjadi 5
fungsi:
1. Fungsi
Contohnya: mampu
menggungkapkan gambaran, maksud ,gagasan, dan perasaan.
2. Komunikasi
Contohnya: sebagai
alat berinteraksi atau hubungan antara dua manusia dan sehingga pesan yang
dikmaksudkan dapat dimengerti.
3. Control social
Contohnya: tulisan
“dilarang merokok” bahasa tersebut berfungsi sebagai pengatur atau pengontrol.
4. Adaptasi
Contohnya: bila kita
berada di wilayah atau daerah yang asing atau diluar ibu kota, kita dapat
menggunakan Bahasa Indonesia tersebut sebagai alat untuk adaptasi dengan lingkungan
baru tersebut.
5. Integrasi/pemersatu
Contohnya: bahasa-bahasa
yang berbeda atau beraneka ragam dan dipersatukan oleh bahasa Nasional yang
dapat dipakai di seluruh Indonesia yang menjadi satu kesatuan yang utuh dan
bulat.
Setiap bahasa memiliki fungsi khusus.
Bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional mempunyai fungsi khusus yang sesuai
dengan kepentingan Bahasa Indonesia Fungsi itu adalah sebagai:
- Alat untuk menjalankan administrasi negara. Fungsi ini terlihat dalam surat-surat resmi, surat keputusan, peraturan dan perundang-undangan, pidato dan pertemuan resmi;
- Alat pemersatu berbagai suku yang memiliki latar belakang budaya dan bahasa yang berbeda-beda;
- Wadah penampung kebudayaan. Semua ilmu pengetahuan dan kebudayaan harus diajarkan dan diperdalam dengan mempergunakan Bahasa Indonesia sebagai medianya.
Dari
sejak kecil kita sudah ditekankan untuk berbahasa Indonesia yang baik dan benar
namun terkadang karena adanya suatu pergaulan yang menjadi tempat sosialisai
bagi diri kita dengan yang lain serta tempat untuk berinteraksi dengan orang
lain. Berbahasa yang baik dan benar pun terkadang sedikit dilalaikan.
Banyak
dari kita yang belum menyadari akan pertanyaan itu dan belum tentu kita
mengetahui akan jawaban dari pertanyaan itu, sedangkan kita sejak duduk
dibangku sekolah dasar sampai sekolah menengah atas bahkan ada yang melanjutkan
perguruan tinggi pun kita masih mendapatkan pelajaran atau mata kuliah Bahasa
Indonesia.
- Bahasa Indonesia diresmikan setelah proklamasi kemerdekaan indonesia, tepatnya sehari sesudahnya. Di timor leste Bahasa Indonesia berposisi sebagai bahasa kerja. Upaya lancar menggunakan Bahasa Indonesia yang baik dan benar.
- Untuk lebih men-Indonesianisasi-kan masyarakat indonesia, agar mereka mengetahui produk negeri sendiri dan tentunya pelajaran Bahasa Indonesia itu sendiri perlu pemberdayaan dan pelestarian, agar Bahasa Indonesia tetap eksis di tengah masyarakat Indonesia yang majemuk ini.
- Mampu memperbaiki sikap bahasa dan pemakaian bahasanya. karena bahasa yang kita gunakan sudah banyak di pengaruhi dengan arus globalisasi yang terus-menerus masuk dalam kehidupan kita dan juga perkembangan ilmu pengetahuan. Karena pembiasaan penggunaan Bahasa Indonesia yang baik dan benar merupakan suatu hal yang merujuk kepada buah pemikiran yang baik dan benar juga.
Bahasa
Indonesia juga sangat berperan bagi remaja. Remaja dalam mengungkapkan ekspresi
dan perasaannya terhadap lingkungan sekitarnya baik kepada teman, keluarga,
atau masyarakat di sekitarnya menggunakan Bahasa Indonesia, hal ini dilakukan
agar mereka (remaja) mendapatkan pengakuan dari orang-orang disekitarnya.
Selain
itu Bahasa Indonesia juga sangat berperan untuk kalangan Mahasiswa. Beberapa Peran Riil Bahasa
Indonesia untuk Mahasiswa yaitu:
- Mahasiswa mampu menyusun sebuah karya ilmiah sederhana dalam bentuk dan isi yang baik, dengan menggunakan Bahasa Indonesia yang baik dan benar.
- Mahasiswa dapat membuat tugas-tugas (karangan ilmiah sederhana) dari dosen-dosen dengan menerapkan dasar-dasar yang diperoleh dari kuliah Bahasa Indonesia.
- Mahasiswa mampu menyusun skripsi sebagai syarat ujian sarjana.
- Mahasiswa lebih terampil menyusun kertas kerja, laporan penelitian, surat, dan karya ilmiah lainnya setelah lulus.
Bahasa Indonesia, dapat diketahui betapa pentingnya kita
sebagai warga Indonesia terutama generasi muda untuk belajar memahami dan
mencintai Bahasa Indonesia serta menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Kita haruslah bangga menggunakan Bahasa Indonesia tentunya dengan ejaan,
pengucapan, penulisan secara lisan maupun tulisan yang tepat dan benar sesuai
dengan ketentuan-ketentuan penggunaan Bahasa Indonesia yang berlaku. Kita
tidaklah harus malu atau gengsi dalam menggunakan Bahasa Indonesia yang baik
kepada semua orang, sebab Bahasa Indonesia merupakan identitas diri kita yang
menyatakan kepada seluruh orang atau dunia bahwa diri kita adalah warga negara
Indonesia.
Di zaman
moderen ini mencintai bahasa bangsa sendiri merupakan kebanggaan besar terutama
Bangsa Indonesia yang cinta akan Bahasa Indonesia karena Bahasa Indonesia
digunakan di seluruh wilayah kepulauan Indonesia.
Kita harus yakin dengan berbahasa Indonesia kita tetap bisa
berdaya saing global. Tantangan sekarang, bagaimana membuat anak-anak mampu
memiliki keterampilan berkomunikasi dalam Bahasa Indonesia yang baik dan benar
dengan fokus pada meningkatkan minat baca dan menulis.
Bahasa Indonesia bisa menjadi Bahasa Internasional jika
Bahasa Indonesia juga merupakan sebagai jati diri Bangsa Indonesia yang menjadi
bahasa Internasional. Melihat perjalanan sejarah yang sangat unik ini,
sepantasnya masyarakat Indonesia berbangga hati dan mencintai Bahasa Indonesia
sebagai bagian yang melekat pada dirinya.
D.
HAMBATAN
DAN TANTANGAN BAHASA INDONESIA UNTUK TETAP EKSIS DI KALANGAN REMAJA DAN
MAHASISWA
Saat ini, pengetahuan kaum muda, termasuk mahasiswa dalam
penggunaan Bahasa Indonesia sangat minim, ini diketahui saat mereka membuat
makalah atau presentasi. Banyak mahasiswa yang tidak mengerti penggunaan tata
Bahasa Indonesia karena kerap menggunakan bahasa alay dalam percakapan
sehari-hari, selain itu mahasiswa dan remaja sering menggunakan Bahasa
Indonesia yang digabungkan dengan Bahasa Inggris.
Bahasa Indonesia adalah identias bangsa, karenanya tidak
pantas perkembangan zaman dan perubahan teknologi komunikasi menggerusnya.
Terlebih dasarnya hanya, atas dasar pergaulan.
Pergeseran itu tampak di kalangan remaja, utamanya saat
mengirim pesan singkat via ponsel atau berkomunikasi di dunia maya melalui akun
facebook. Salah satu contoh bahasa komunikasi mereka yang dikatakan bahasa gaul
adalah dengan menyingkat huruf dengan angka dalam sebuah kata.
Pada dasarnya, remaja memiliki bahasa tersendiri dalam
mengungkapkan ekspresi diri. Bahasa remaja tersebut kemudian dikenal sebagai
bahasa gaul remaja. Bahasa remaja menjadi dampak negatif apabila dilihat dari
segi ketidakmampuan remaja menempatkan bahasa dalam konteks sosialnya. Distribusi
bahasa gaul sering tidak memperhatikan konteks yang tepat.
Bahasa Indonesia baku mulai
dikhawatirkan ketika mulai dikikis oleh bahasa gaul, populer atau bahasa pasar.
Padahal, bahasa baku sangat penting dalam kedudukan kebangsaan.
Saat ini
banyak sekali remaja yang menciptakan bahasa gaul, yaitu bahasa baku yang
dipelesetkan, sehingga terkadang orang dewasa tidak memahami bahasa apa yang
dikatakan oleh para remaja tersebut.
Contoh
bahasa gaul yang sering dipakai adalah beud, yang berasal dari kata banget.
Lalu ada pula kata kakak yang dalam bahasa Inggris adalah sister, menjadi
sista.
Padahal penggunaan bahasa gaul tersebut dapat
merusak tata Bahasa Indonesia yang benar. Bagi sebagian remaja, menggunakan
bahasa gaul akan menciptakan image
bagi mereka sebagai anak keren dan tidak ketinggalan jaman. Padahal apa yang
mereka lakukan tidak benar dan dapat merugikan Bangsa Indonesia. Apalagi saat
ini Malaysia telah mengklaim Bahasa Indonesia sebagai bahasa negara mereka
padahal sudah jelas bahwa Bahasa Indonesia adalah milik Negara Indonesia. Hal
ini menunjukkan bahwa betapa rendahya kesadaran masyarakat terutama para remaja
untuk mencintai bahasanya sendiri.
Bahasa gaul atau alay berkembang karena remaja atau anak
muda ingin diakui statusnya di dalam pergaulan. Karena itulah, mereka rela
mengubah gaya bicara, mimik, bahasa tulisan, bahkan sampai mengubah gaya berpakaiannya.
Untuk mengendalikan itu semua, peran orangtua, keluarga, pengajar, dan
masyarakat sangat dibutuhkan. Karena jika tidak, penggunaan bahasa alay itu
akan merusak penggunaan tata Bahasa Indonesia dan bahasa lainnya.
Ciri-ciri
alay antara lain:
a. Penulisan kata disingkat.
b. Memakai simbol tambahan.
Slang digunakan sebagai bahasa pergaulan. Kosakata slang
dapat berupa pemendekan kata, penggunaan kata alam diberi arti baru atau
kosakata yang serba baru dan berubah-ubah. Disamping itu slang juga dapat berupa
pembalikan tata bunyi, kosakata yang lazim dipakai di masyarakat menjadi aneh,
lucu, bahkan ada yang berbeda makna sebenarnya. Penggunaan bahasa alay bisa
menyebabkan pembentukkan pemahaman yang mengkristal di kaum muda. Hal ini
dikhawatirkan akan merusak tatanan Bahasa Indonesia.
Contohnya saja seperti kata “lu dan gue”, jika dua kata itu
digunakan antar teman tidak akan menjadi masalah. Namun jika digunakan pada
acara formal, maka akan muncul anggapan rendahnya tingkat profesionalisme
seseorang dalam suatu hubungan kerja.
“Sih, nih,
tuh, dong” merupakan sebagian dari partikel-partikel bahasa prokem yang
membuatnya terasa lebih "hidup" dan membumi, menghubungkan satu anak
muda dengan anak muda lain dan membuat mereka merasa berbeda dengan orang-orang
tua yang berbahasa baku. Partikel-partikel ini walaupun pendek-pendek namun
memiliki arti yang jauh melebihi jumlah huruf yang menyusunnya. Kebanyakan
partikel mampu memberikan informasi tambahan kepada orang lain yang tidak dapat
dilakukan oleh Bahasa Indonesia baku seperti tingkat keakraban antara pembicara
dan pendengar, suasana hati/ekspresi pembicara, dan suasana pada kalimat
tersebut diucapkan.
Berbahaya
sekali jika anak-anak kecil menggunakan gaya bahasa gaul nan alay ini. Mereka
bisa menuliskan dan mengucapkannya hingga remaja nanti, sehingga mereka tidak
mengetahui yang manakah Bahasa Indonesia yang baik dan benar.
Bisa saja
karena mereka terlalu sering menggunakan bahasa yang norak ini hanya karena
ingin gaul dan tenar, lalu mereka mengucapkannya di depan guru, menuliskannya
pada lembar jawaban ulangan esai, dan menggunakannya ketika berpidato.
Bahasa
gaul sangat berpengaruh di dalam lingkungan :
a. Lingkungan sosial : Penggunaan
bahasa gaul dalam lingkup sosial, untuk kalangan remaja akan membuat keakraban
tersendiri antara remaja yang satu dengan remaja yang lain. Tapi untuk kalangan
orang tua (orang yang lebih tua) mereka justru akan kebingungan bahkan tidak
tahu sama sekali tentang bahasa gaul. Dan akhirnya akan mengakibatkan
terjadinya ketidakpahaman orang tua terhadap apa yang diinginkan oleh anaknya.
b. Lingkungan budaya : Penggunaan
bahasa gaul dalam lingkup budaya akan menggeser penggunaan Bahasa Indonesia
yang baik dan benar dan akan memusnahkan (menghilangkan) keberadaan bahasa
daerah yang telah ada sebelumnya.
c. Lingkungan pendidikan : Penggunaan
bahasa gaul dalam lingkup pendidikan, akan menghilangkan etika sopan santun
dalam bertutur saat berbicara dengan dosen, guru atau pendidik.
Bahasa gaul juga mengalami perkembangan. Perkembangan tersebut
dapat berupa penambahan dan pengurangan kosakata. Tidak sedikit kata-kata yang
akan menjadi kuno (usang) yang disebabkan oleh tren dan perkembangan zaman.
Yang
menggunakan bahasa gaul pada umumnya adalah remaja yang ingin dianggap beken
atau tenar di kalangan teman-temannya. Mereka menganggap berbahasa gaul adalah
keren, padahal di mata remaja lain gaya bahasa mereka adalah alay. Karena
mereka sudah terbiasa dengan bahasa gaul alay ini, bisa saja mereka lupa dengan
bahasa asli Bahasa Indonesia yang baik dan benar.
Dengan
semakin banyaknya remaja yang menggunakan bahasa gaul menyebabkan lunturnya
bahasa persatuan yaitu Bahasa Indonesia. Kecenderungan seperti inilah yang
harus kita waspadai. Bahasa gaul memang terlihat lebih keren. Akan tetapi, kita
juga harus bangga pada Bahasa Indonesia. Sesuai dengan isi Sumpah Pemuda yang
menjadikan Bahasa Indonesia sebagai persatuan. Oleh karena itu, kita sebagai
remaja dan pemuda generasi penerus bangsa harus menggunakan bahasa yang baik
dan benar dalam kehidupan sehari-hari.
Seringnya kita
mempergunakan bahasa asing malah menggeser nilai identitas keindonesiaan, dan
bahkan nilai kesatuan kita. Pada saat kita berbicara kepada seseorang yang
berasal dari daerah lain, sudah pasti kita menggunakan Bahasa Indonesia. Namun
karena Bahasa Indonesia yang telah terpengaruhi oleh istilah asing dan istilah
asing tersebut kita pakai pada saat perbincangan tersebut, malah bisa
menimbulkan kesalahpahaman Justru inilah yang menjadi salah satu sumber
perpecahan kita. Ternyata semakin berkembangnya Bahasa Indonesia dengan
perbendaharaan kata asing tidak sejalan pelaksanaannya di lapangan di seluruh
pelosok tanah air. Dan ternyata penggunaan bahasa asing ini lebih digunakan
dalam pergaulan orang-orang kota besar, terutama di Jakarta. Orang-orang kota
besar memang identik mempergunakan istilah-istilah asing supaya tampak
''keren'' dan terkesan ''highclass''
.
Adanya
kecenderungan negatif dari para generasi muda terhadap Bahasa Indonesia kini
sedang terjadi. kebanyakan dari mereka lebih cenderung menggunakan bahasa asing
dalam percakapan keseharian mereka. Banyak diantara mereka menganggap bahwa
jika kita tak mampu menggunakan bahasa asing dalam percakapan keseharian
mereka, maka ia dianggap ketinggalan zaman.
Hal ini
sangat riskan jika dibiarkan begitu saja. Hal ini juga akan berdampak pada
kelangsungan Bahasa Indonesia sebagai bahasa kenegaraan. Oleh karena itu perlu
adanya pembinaan bahasa bagi para generasi muda agar Bahasa Indonesia tetap
dijunjung tinggi sebagai bahasa kenegaraan, dan bahasa keseharian. Melihat dari
beberapa masalah di atas, maka perlu adanya pengkajian ulang tentang eksistensi
dari Bahasa Indonesia ditengah era global ini yang membawa dampak pada
munculnya penggunaan bahasa asing dan bahasa gaul yang lebih dominan dibanding
Bahasa Indonesia.
Di era
global, penguasaan bahasa asing memang tetap diperlukan. Namun yang lebih
penting adalah menjadikan Bahasa Indonesia sebagai bahasa utama. Jaman
sekarang, hanya bisa menggunakan satu bahasa saja sangatlah sulit untuk bisa
masuk dalam global competition, apalagi posisi negara kita yaitu sebagai
negara berkembang yang masih memerlukan bantuan dan kontribusi dari negara lain
khususnya negara maju.
Bahasa
asing di negara indonesia, mempunyai peranan besar bagi indonesia itu sendiri.
pengaruh yang diberi pun beraneka ragam. Ada yang memberikan pengaruh positif
dan tidak jarang juga ada yang memberikan pengaruh negatif.
Contoh-contoh
dampak negatif masuknya bahasa asing antara lain:
a.
Anak-anak
mulai mengentengkan/menggampangkan untuk belajar Bahasa Indonesia.
b. Rakyat Indonesia semakin lama kelamaan
akan lupa kalau Bahasa Indonesia merupakan bahasa persatuan.
c. Anak-anak mulai menganggap rendah
bacaan Indonesia.
d. Lama kelamaan rakyat Indonesia akan
sulit mengutarakan Bahasa Indonesia yang baik dan benar.
e. Mampu melunturkan semangat
nasionalisme dan sikap bangga pada bahasa dan budaya sendiri.
Contoh-Contoh
pengaruh positif bahasa asing bagi perkembangan anak antara lain :
1. Mampu meningkatkan pemerolehan bahasa
anak.
2. Semakin banyak orang yang mampu
berkomunikasi dalam bahasa Inggris maka akan semakin cepat pula proses transfer
ilmu pengetahuan
3. Menguntungkan dalam berbagai
kegiatan (pergaulan internasional, bisnis, sekolah).
4. Anak dapat memperoleh dua atau lebih
bahasa dengan baik apabila terdapat pola sosial yang konsisten dalam
komunikasi, seperti dengan siapa berbahasa apa, di mana berbahasa apa, atau
kapan berbahasa apa.
5. Anak akan melalui tahap perkembangan
bahasa yang relatif sama meskipun setiap anak dapat mencapai tahap-tahap
tersebut pada usia yang berbeda.
6. Sangat baik untuk kondisi fisik dan
kemampuan kerja otak.
E.
MELESTARIKAN
BAHASA INDONESIA AGAR TETAP EKSIS DI KALANGAN REMAJA
Bahasa gaul atau yang sering disebut bahasa alay baik, asal
dikendalikan, jangan kebablasan seperti sekarang ini. Setiap saat mempergunakan
bahasa gaul tidak lagi melihat tempat dan situasinya. Anak muda diharapkan
untuk tidak terus menerus bercakap dengan bahasa gaul karena bahasa itu bisa
merusak tata Bahasa Indonesia yang baik dan benar.
Untuk menghindari makin hilangnya pemahaman kaum muda dan
masyarakat tentang Bahasa Indonesia adalah perlunya ditanamkan kesadaran dan
pemahaman membedakan penggunaan Bahasa Indonesia yang baik dan benar sesuai
konteks.
Masyarakat termasuk pendidik harus menjaga dan melestarikan
Bahasa Indonesia sebagai bahasa yang utama dan penting sebagai warga Negara
Indonesia untuk tetap melestarikannya. Di era global bahasa asing memang tetap
diperlukan, namun yang lebih penting adalah menjadikan Bahasa Indonesia sebagai
bahasa utama. Sehingga kekhawtairan kita akan buramnya penggunaan Bahasa
Indonesia di media digital yang dianggap tidak baik dan tidak benar tidak akan
terjadi.
Mahasiswa cenderung
lebih menyukai bahasa gaul daripada menggunakan Bahasa Indonesia yang baik dan
benar. Mulai lunturnya kecintaan pada Bahasa Indonesia adalah hal yang harus
dihindari.
Untuk meningkatkan
penggunaan Bahasa Indonesia dapat dilakukan dengan cara membiasakan pada kehidupan
sehari-hari di manapun kita berada. Awalnya memang mungkin sulit tetapi bila
dilakukan terus menerus maka akan menciptakan sopan santun yang baik dalam
etika berkomunikasi.
Bahasa Indonesia itu penting diatur oleh Undang-Undang
dikarenakan ada beberapa hal yang harus diperhatikan:
- Bila bahasa Indonesia tidak diatur oleh Undang-Undang, masyarakat akan seenaknya menggunakan bahasa yang mereka anggap itu gaul
- Penggunaan bahasa Indonesia yang baku harus digunakan pada situasi formal
Yang dapat dilakukan oleh
masyarakat ataupun satuan pendidikan untuk tetap melestarikan Bahasa Indonesia
di kalangan mahasiswa antara lain:
- Mengadakan lomba menulis cerita dengan pengunaan Bahasa Indonesia formal dengan hadiah yang sepadan.
- Universitas atau sekolah membiasakan siswa ataupun mahasiswannya untuk berkomunikasi dengan menggunakan Bahasa Indonesia. Contohnya saja setiap 1x seminggu lalu secara bertahap ditingkatkan menjadi 2x seminggu, dan seterusnya. Sesungguhnya Bahasa Indonesia adalah bahasa yang halus. Bahasa Indonesia mengajarkan kepada kita untuk berbicara sopan, Karena Bahasa Indonesia digali dari kebudayaan Bangsa Indonesia sendiri.
Hal-hal
yang dapat dilakukan oleh mahasiswa itu sendiri untuk melestarikan Bahasa
Indonesia yaitu:
- Kesetiaan bahasa: mendorong mahasiswa memelihara bahasa nasional dan apabila perlu mencegah adanya pengaruh asing.
- Kebanggaan bahasa: mendorong mahasiswa mengutamakan bahasanya dan menggunakannya sebagai lambang identitas bangsanya.
- Kesadaran akan adanya norma bahasa: mendorong mahasiswanya menggunakan bahasanya sesuai dengan kaidah yang berlaku.
Sejak dini anak-anak telah mengenal
bahasa. Mereka mendengar apapun di lingkungan sekitar mereka. Banyak remaja dan
anak-anak yang berkomunikasi dengan temannya menggunakan bahasa gaul. Hal yang
paling dikhawatirkan adalah, jangan-jangan anak beranggapan, yang begitulah
Bahasa Indonesia. Untuk menghindari terjadinya hal seperti itu maka pendidik
harus memberikan penjelasan yang sangat mendasar tentang bahasa yang ada di
sekitar anak, antara lain:
- Memberitahu bahwa bahasa ada dua ragam Bahasa Indonesia : ragam baku dan ragam gaul.
- Memberikan penjelasan agar siswa dapat membedakan ragam Bahasa Baku dengan Bahasa Gaul, perihal. Kapan pada situasi apa, secara pragmatik masing-masing ragam bahasa itu digunakan. dapat mentransfer, melakukan transpormasi dari Bahasa Ragam Gaul ke Bahasa Indonesia Ragam Baku serta sebaiknya dari Bahasa Ragam Baku ke Bahasa Ragam Gaul.
Banyak cara untuk membuat remaja menggunakan Bahasa
Indonesia yang baik dan benar, antara lain:
- Membiasakan remaja untuk membaca buku-buku penulis Indonesia.
- Berbicara dengan bahasa yang baik kepada anak remaja.
- Memperkenalkannya dengan karya sastra sastrawan Indonesia.
- Mengajaknya sering-sering berlatih menulis dengan Bahasa Indonesia yang baik.
- Tidak mengucapkan bahasa yang kasar kepada anak remaja ketika usianya masih kecil.
Oleh sebab itu, kita sebagai keluarga dan gurunya,
semestinya mengawasi penggunaan bahasa pada anak. Jangan sampai mereka terbawa
pengaruh yang buruk, yang membuat mereka menggunakan Bahasa Indonesia yang
buruk pula. Cintailah Bahasa Indonesia, karena inilah salah satu kekayaan
bangsa kita.
Cara lain untuk
mengembalikan Bahasa Indonesia menjadi Bahasa Persatuan adalah dengan cara
memberi kesempatan kepada keragaman dan kekayaan bahasa daerah di tanah air
untuk menambah perbendaharaan kata Bahasa Indonesia. Jika ada kata yang tidak
dikenal atau tidak ada istilah Bahasa Indonesianya, sudah selayaknyalah kita
merujuk kepada perbendaharaan kata bahasa daerah, bukan bahasa asing. Selain
bahasa rumpun melayu (Sumatera dan Kalimantan) contoh yang bisa dijadikan
rujukan adalah kerumitan tata bahasa dan ketinggian bahasa jawa yang berbeda
tiap kasta-kasta, beragamnya bahasa sunda, bahasa batak dan mentawai, bahasa
bugis dan makassar, bahasa maluku, dayak, papua, flores bisa memperkaya Bahasa
Indonesia. Dengan partisipasi dari bahasa daerah inilah justru timbul rasa
turut ikut mendukung dan mewakili kekayaan dan ketinggian Bahasa Indonesia,
serta terutama juga akan timbul rasa sama-sama memiliki Bahasa Indonesia
sebagai bahasa nasional. Inilah yang bisa menjadi salah satu solusi mempersatu
bangsa kita. Hal yang kecil namun pengaruhnya besar bagi bangsa kita secara
keseluruhan dari Sabang sampai Merauke.
Justru dengan memberikan
kesempatan bahasa daerah memperkaya Bahasa Indonesia, maka bisa jadi bahasa
kita bisa digolongkan kedalam bahasa dunia dan juga ikut memperkaya suatu
bahasa yang akan menjadi bahasa dunia kelak dalam rangka mempersatukan dunia.
Walau serapan kata daerah pada awalnya terdengar lucu, bisa jadi 5 hingga 10
tahun kedepan malah telinga kita semakin terbiasa dengannya. Padahal pada saat
kita menyerap istilah asing adakalanya kita merasa tergelitik memakai istilah
tersebut, namun lama kelamaan malah diterima. Oleh karena itu kalau kita tidak
bisa memelihara Bahasa Indonesia dengan memperkayanya, maka tidak lama lagi
Bahasa Indonesia hanya tinggal kenangan saja
Ada beberapa upaya yang bisa
dilakukan pada remaja agar tetap mau meningkatkan pengguanaan Bahasa Indonesia
antara lain:
- Menyadarkan remaja akan fungsi dan pentingnya dari bahasa yang baku. Upaya ini dimaksud untuk mengajak seseorang menyadari porsi dan tempat yang tepat bagi penggunaan Bahasa Indonesia yang baik dan benar.
- Membutuhkan suatu upaya pembiasaan. Artinya, remaja dilatih untuk berbahasa secara tepat, baik secara lisan maupun tulisan setiap saat setidaknya selama berada di lingkungan sekolah. Pembiasaan ini akan sangat mempengaruhi perkembangan kemampuan berbahasa pada remaja.
3. Proses
penyadaran dan pembiasaan ini membutuhkan suatu kekuatan atau sanksi yang
mengikat misalnya tugas menuliskan suatu artikel atau karangan dengan bahasa
yang baku. Hal ini akan menimbulkan keinginan remaja untuk mempelajari Bahasa
Indonesia yang baik dan benar.
Bab
III
PENUTUP
A.
KESIMPULAN
Dapat kita simpulkan banyaknya kalangan remaja menggunakan
bahasa gaul dan bahasa asing adalah akibat dari perkembangan zaman yang kian
mengalami kamajuan baik dari dunia pendidikan sampai teknologi. Gejala bahasa
yang dapat menghambat pertumbuhan dan perkembangan Bahasa Indonesia dianggap
sebagai penyimpangan terhadap bahasa. Kurangnya kesadaran untuk mencintai
bahasa di negeri sendiri berdampak pada tergilasnya atau lunturnya Bahasa
Indonesia dalam pemakaiannya dalam masyarakat terutama dikalangan remaja.
Apalagi dengan maraknya dunia kalangan artis menggunakan bahasa gaul dan bahasa
asingdi media massa dan elektronik, membuat remaja semakin sering menirukannya
di kehidupan sehari-hari hal ini sudah menjadi wajar karena remaja suka meniru
hal-hal yang baru.
Alasan para remaja lebih senang
menggunakan bahasa gaul dan
bahas asing dari pada Bahasa Indonesia disebabkan karena beberapa
alasan. Dimulai dari keinginan para remaja agar terlihat gaul dan highclass dengan menggunakan bahasa gaul dan bahasa asing dari pada
Bahasa Indonesia hingga dirasa kurangnya waktu penggunaan Bahasa Indonesia yang
hanya bertempat pada lingkungan sekolah saja.
Bahasa gaul atau yang kerap disebut bahasa alay baik, asal
dikendalikan, jangan kebablasan seperti sekarang ini. Setiap saat mempergunakan
bahasa gaul tidak lagi melihat tempat dan situasinya. Anak muda diharapkan
untuk tidak terus menerus berbicara dengan bahasa gaul karena bahasa itu bisa
merusak tata Bahasa Indonesia yang baik dan benar.
Yang dapat dilakukan
oleh masyarakat ataupun pendidik untuk tetap melestarikan Bahasa Indonesia di
kalangan mahasiswa antara lain:
- Mengadakan lomba menulis carita dengan pengunaan Bahasa Indonesia formal dengan hadiah yang sepadan.
- Universitas atau sekolah membiasakan siswa ataupun mahasiswannya untuk berkomunikasi dengan menggunakan Bahasa Indonesia. Cntohnya saja setiap 1x seminggu lalu secara bertahap ditingkatkan menjadi 2x seminggu, dan seterusnya. Sesungguhnya Bahasa Indonesia adalah bahasa yang halus. Bahasa Indonesia mengajarkan kepada kita untuk berbicara sopan. Karena Bahasa Indonesia digali dari kebudayaan Bangsa Indonesia sendiri.
Hal-hal
yang dapat dilakukan oleh mahasiswa itu sendiri untuk melestarikan Bahasa
Indonesia yaitu:
- Kesetiaan bahasa: mendorong mahasiswa memelihara bahasa nasional dan apabila perlu mencegah adanya pengaruh asing.
- Kebanggaan bahasa: mendorong mahasiswa mengutamakan bahasanya dan menggunakannya sebagai lambang identitas bangsanya.
- Kesadaran akan adanya norma bahasa: mendorong mahasiswanya menggunakan bahasanya sesuai dengan kaidah yang berlaku.
Sejak dini anak-anak telah mengenal
bahasa. Mereka mendengar apapun di lingkungan sekitar mereka. Banyak remaja dan
anak-anak yang berkomunikasi dengan temannya menggunakan bahasa gaul. Hal yang
paling dikhawatirkan adalah, jangan-jangan anak beranggapan, yang begitulah
Bahasa Indonesia. Untuk menghindari terjadinya hal seperti itu maka pendidik
harus memberikan penjelasan yang sangat mendasar tentang bahasa yang ada di
sekitar anak, antara lain:
- Memberitahu bahwa bahasa ada dua ragam Bahasa Indonesia : ragam baku danragam gaul.
- Memberikan penjelasan agar siswa dapat membedakan ragam Bahasa Baku dengan Bahasa Gaul, perihal. Kapan pada situasi apa, secara pragmatik masing-masing ragam bahasa itu digunakan. dapat mentransper, melakukan transpormasi dari Bahasa Ragam Gaul ke Bahasa Indonesia Ragam Baku serta sebaiknya dari Bahasa Ragam Baku ke Bahasa Ragam Gaul.
Banyak cara untuk membuat remaja menggunakan Bahasa
Indonesia yang baik dan benar, antara lain:
- Membiasakan remaja untuk membaca buku-buku penulis Indonesia.
- Berbicara dengan bahasa yang baik kepada anak remaja.
- Memperkenalkannya dengan karya sastra sastrawan Indonesia.
- Sering mengajaknya sering-sering berlatih menulis dengan Bahasa Indonesia yang baik.
- Tidak mengucapkan bahasa yang kasar kepada anak remaja ketika usianya masih kecil.
Cara lain untuk
mengembalikan Bahasa Indonesia menjadi Bahasa Persatuan adalah dengan cara
memberi kesempatan kepada keragaman dan kekayaan bahasa daerah di tanah air
untuk menambah perbendaharaan kata Bahasa Indonesia. Jika ada kata yang tidak
dikenal atau tidak ada istilah Bahasa Indonesianya, sudah selayaknyalah kita
merujuk kepada perbendaharaan kata bahasa daerah, bukan bahasa asing. Selain
bahasa rumpun melayu (Sumatera dan Kalimantan) contoh yang bisa dijadikan
rujukan adalah kerumitan tata bahasa dan ketinggian bahasa jawa yang berbeda
tiap kasta-kasta, beragamnya bahasa sunda, bahasa batak dan mentawai, bahasa
bugis dan makassar, bahasa maluku, dayak, papua, flores bisa memperkaya Bahasa
Indonesia. Dengan partisipasi dari bahasa daerah inilah justru timbul rasa
turut ikut mendukung dan mewakili kekayaan dan ketinggian Bahasa Indonesia,
serta terutama juga akan timbul rasa sama-sama memiliki Bahasa Indonesia
sebagai bahasa nasional. Inilah yang bisa menjadi salah satu solusi mempersatu
bangsa kita. Hal yang kecil namun pengaruhnya besar bagi bangsa kita secara
keseluruhan dari Sabang sampai Merauke.
A.
SARAN
Kita haruslah bangga menggunakan Bahasa Indonesia tentunya
dengan ejaan, pengucapan, penulisan secara lisan maupun tulisan yang tepat dan
benar sesuai dengan ketentuan-ketentuan penggunaan Bahasa Indonesia yang
berlaku. Kita tidaklah harus malu atau gengsi dalam menggunakan Bahasa Indonesia
yang baik kepada semua orang,sebab Bahasa Indonesia merupakan identitas diri
kita yang menyatakan kepada seluruh orang atau dunia bahwa diri kita adalah
warga negara Indonesia.
Keistimewaan kedudukan Bahasa Indonesia seperti terurai di
atas hendaknya diimbangai pula dengan pembinaan dan pengembangan yang memadai.
Pembinaan dan pengembangan itu sangat penting. Lebih-lebih untuk Bahasa
Indonesia yang masih dalam tahap perkembangan. Melalui pembinaan dan
pengembangan itu Bahasa Indonesia diharapkan akan selalu dapat mengemban fungsi
yang diberikan kepadannya.
DAFTAR PUSTAKA
1.
http://wartawarga.gunadarma.ac.id/2011/03/pengaruh-penggunaan-bahasa-gaul-terhadap-perkembangan-bahasa-indonesia-sebagai-identitas-bangsa-dan-pengaruh-bahasa-asing-terhadap-bahasa-indonesia/ diakses pada
13-07-2011 pukul 23.25.
3.
http://file.upi.edu/Direktori/DUAL-MODES/PEMBINAAN_BAHASA_INDONESIA_SEBAGAI_BAHASA_KEDUA/3_BBM_1.pdf diakses pada
13-07-2011 pukul 23.55.
5. http://mocoe.wordpress.com/2010/10/06/pengaruh-bahasa-gaul-remaja-terhadap-bahasa-indonesia/ diakses pada diakses pada 16-07-2011
pukul 08.43.
6. http://bukucatatan-part1.blogspot.com/2009/06/skripsi-bahasa-gaul-remaja-indonesia.html/ diakses pada diakses pada 16-07-2011
pukul 08.57.

0 comment:
Speak up your mind
Tell us what you're thinking... !